liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86

Ilmuwan Pastikan Teknologi CMR yang Bisa Buktikan Keberadaan Harimau Jawa

Ilmuwan Pastikan Teknologi CMR yang Bisa Buktikan Keberadaan Harimau Jawa

Memuat…

Penampakan harimau di hutan tertangkap oleh kamera pengintai milik seorang ranger. Ilustrasi FOTO / IST

JAKARTA – Indonesia pernah menjadi rumah bagi tiga subspesies harimau (harimau Sumatera, Jawa dan Bali). Sayangnya, harimau jawa dan bali sudah punah, tinggal harimau sumatera saja.

BACA JUGA – Kemunculan Harimau Jawa di Gunung Pegat Kembali Ajak Perdebatan

Dan pada tahun 2022, laporan penampakan harimau jawa meningkat di beberapa kawasan hutan di Pulau Jawa. Sementara populasi harimau di alam liar terus mengalami tekanan.

Harimau Sumatera sendiri terancam punah dengan jumlah saat ini diperkirakan mencapai 393 jantan dewasa, turun 10% dibandingkan tahun 2008 sebanyak 439 ekor.

Banyak laporan penampakan harimau jawa, hanya saja teknologi metode CMR atau metode camera trap menjadi alat utama untuk ‘menangkap’ harimau dalam bingkai foto.

Seperti dilansir dari The Conversation, cara ini lebih mudah ketimbang menangkap harimau secara langsung.

Selain peralatan, CMR juga membutuhkan desain penelitian yang baik. Misalnya kamera pengintai dipasang di lokasi yang optimal untuk mendeteksi harimau. Lokasi ini bisa berupa jalur harimau (di mana terdapat jejak atau kotoran harimau) atau jalur mangsa hewan.

Pembagian kamera juga harus merata untuk memastikan setiap harimau memiliki kesempatan yang sama untuk ‘ditangkap’.

Di Sumatera, survei harimau biasanya menggunakan sistem grid atau grid, dimana satu stasiun kamera (biasanya berpasangan untuk mendapatkan foto kedua sisi harimau) dipasang dalam grid berukuran 3×3 kilometer (km).

Survei juga dilakukan dalam jangka waktu terbatas, biasanya 90 hari. Angka ini digunakan sebagai acuan asumsi populasi harimau tertutup dimana tidak terjadi proses kelahiran, kematian, migrasi dan migrasi yang dapat mengubah total populasi harimau di wilayah studi selama survei.

Kondisi di atas tampak sederhana. Namun, menerapkannya di lapangan bisa lebih menantang, terutama karena sumber daya yang terbatas.

Jika kita ingin melakukan survei kamera di area yang luas, maka diperlukan lebih banyak kamera pengintai dan tim lapangan. Tentu saja hal ini akan berdampak pada periode survei yang panjang dan biaya operasional yang tinggi.

Luas wilayah survei yang terbatas menimbulkan tantangan dalam menentukan jumlah harimau di wilayah yang luas seperti taman nasional.

(wbs)