liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86

Inovasi Kilang Badak LNG, Tekan Impor LPG

Inovasi Kilang Badak LNG, Tekan Impor LPG

Memuat…

LPG Booster System ini telah beroperasi sejak Desember 2021, dan hingga Oktober 2022 telah melakukan tiga kali pengiriman. Rencananya pada bulan Desember akan ada dua pengiriman.

BONTANG – Komitmen Pertamina untuk memperkuat infrastruktur Gas Return diwujudkan dengan hadirnya inovasi baru LPG Booster System di Kilang LNG Badak di Bontang. Teknologi ini mampu meningkatkan produksi elpiji untuk wilayah Bontang hingga 323 persen yaitu 603 M3 per hari.

LPG Booster System ini telah beroperasi sejak Desember 2021, dan hingga Oktober 2022 telah melakukan tiga kali pengiriman. Rencananya pada bulan Desember akan ada dua pengiriman. Diproyeksikan akan ada tambahan produksi LPG sebesar 1,56 juta M3 atau 780.000 Metrik Ton pada periode 2022-2027.

“Dengan ditemukannya teknologi ini, inovasi ini memberikan harapan bahwa Indonesia dapat menghasilkan tambahan produksi LPG nasional yang secara otomatis dapat mengurangi impor LPG. Ini akan memperkuat ketahanan energi negara,” kata Nicke Widyawati, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada peluncuran LPG Booster System di Kilang LNG Badak di Bontang, 6 Desember 2022.

Pertamina memiliki potensi yang dapat dikembangkan, hal inilah yang akan terus dilakukan PT Badak ke depan. “Kami percaya gas adalah energi transisi dan Pertamina memperkirakan 60 persen dari investasi untuk hulu,” kata Nicke.

Lebih lanjut Nicke menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim yang membahayakan generasi mendatang karena konsumsi energi menyumbang hingga 55,5% gas rumah kaca. Di tengah perubahan iklim global, gas merupakan transisi energi penting untuk masa depan. Menurutnya, sebagian besar negara masih menggunakan energi fosil termasuk Indonesia. Menyadari hal tersebut, semua negara sepakat untuk melakukan perubahan, dari penggunaan energi fosil menjadi EBT. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena konsumsi energi terus meningkat drastis.

“Efisiensi atau pengurangan konsumsi energi dengan hati-hati dan berhemat dapat berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon,” tambah Nicke.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Wiko Migantoro menjelaskan, sebagai subholding yang bergerak di sektor hulu, PHE memiliki sumber daya gas. Bahkan beberapa potensi masih akan dimonetisasi. Di WK Mahakam juga terdapat blok eksplorasi yang diperkirakan akan berproduksi.

Wiko menambahkan, PT Badak NGL memiliki keunggulan kompetitif dengan memulai bisnis hilir bekerja sama dengan Subholding Gas untuk menjadi pelopor Energi Skala Kecil. Di dunia, Indonesia merupakan negara besar bagi pasokan energi skala kecil di Nusantara. PT Badak sudah banyak mengirimkan energi berupa isotank ke Sulawesi, Sumbawa, Maluku, Jawa Timur dan daerah lainnya.

“Khusus untuk sistem penguat elpiji ini menunjukkan teman-teman di badak tidak bekerja seperti biasanya,” kata Wiko.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Walikota Bontang, Hj. Najirah, SE berharap peresmian proyek LPG Production Promotion System dapat memberikan manfaat strategis, baik bagi PT Badak LNG maupun Pemerintah Kota Bontang dalam mengurangi kebutuhan impor LPG.

“Ke depannya, inovasi terbaru yang diluncurkan oleh PT Badak LNG ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya UMKM untuk mewujudkan kota Bontang yang besar dan beradab,” ujarnya.

(srf)