liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138

Penemuan Fosil Elang Lord of The Rings, Punya Bentang Sayap 3 Meter

Penemuan Fosil Elang Lord of The Rings, Punya Bentang Sayap 3 Meter

memuat…

Penemuan fosil spesies baru elang yang telah punah mengejutkan para ilmuwan Australia karena ukurannya yang besar. Foto/Ilmu Langsung/Shutterstock

CANBERRA – Penemuan fosil spesies baru burung rajawali Spesies yang punah mengejutkan para ilmuwan Australia karena memiliki ukuran yang besar. Elang raksasa purba ini digambarkan memiliki lebar sayap 3 meter seperti elang raksasa fiktif dalam “The Lord of the Rings”.

Meskipun elang raksasa purba ini dalam kehidupan nyata tidak sebesar elang dalam fiksi fantasi epik JRR Tolkien “The Lord of the Rings”. Namun, elang raksasa purba ini diperkirakan mampu mengangkat mangsa berukuran hobbit ke udara.

Fosil spesies baru bernama elang perkasa Gaff (Dynatoaetus gaffae) ditemukan di gua vertikal sedalam 17 meter di negara bagian Australia Selatan. Kumpulan fosil yang ditemukan antara tahun 1959 dan 2021 ini meliputi sayap, kaki, kuku, tulang dada, dan tengkorak.

Fosil-fosil ini mengungkapkan bahwa elang raksasa kemungkinan besar memiliki cakar sepanjang 12 inci (30 sentimeter) dan lebar sayap sekitar 10 kaki (3 meter). Penemuan fosil burung pemangsa terbesar dilaporkan oleh para peneliti dalam sebuah studi baru yang diterbitkan pada 15 Maret di Journal of Ornithology.

“Itu sangat besar,” kata Trevor Worthy, ahli paleontologi vertebrata di Flinders University Australia, dikutip SINDOnews dari laman Live Science, Selasa (21/3/2023). Elang raksasa ini hidup antara 50.000 dan 700.000 tahun yang lalu dan mungkin merupakan elang terbesar di planet ini pada saat itu.

Selama era elang raksasa ini, Australia dipenuhi dengan makhluk raksasa lainnya, antara lain burung besar yang tidak bisa terbang, kanguru raksasa (Procoptodon sp.), biawak besar (Varanus priscus) dan marsupial mirip beruang (Diprotodon optatum). Peneliti percaya elang raksasa ini bisa memangsa bayi atau makhluk kecil lainnya.

Mangsa ini mungkin seukuran kanguru hidup, seperti kanguru abu-abu barat (Macropus fuliginosus), yang tingginya sekitar 1,3 meter. Spesies Dynatoaetus gaffae lebih dari dua kali ukuran elang ekor baji Australia (Aquila audax), yang bertahan hingga hari ini.

Elang raksasa Dynatoaetus gaffae memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan elang hidup di genus Spilornis. Termasuk enam spesies yang hidup di Asia, yang terbesar adalah elang Filipina (Pithecophaga jefferyi).

Mereka memangsa monyet, lemur dan kelelawar, serta anak babi dan rusa. Spesies elang Dynatoaetus gaffae dan Pithecophaga jefferyi, keduanya memiliki kaki yang besar dan kuat, memungkinkan mereka menyerang dan membawa mangsa berukuran besar.

Hanya dua dari spesies elang ini yang punah dan Dynatoaetus gaffae bukan satu-satunya elang purba yang ditemukan di Australia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, para peneliti mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan Archaehierax sylvestris, spesies yang sebelumnya tidak diketahui yang mungkin memburu koala besar sekitar 25 juta tahun yang lalu.

(jaring)