liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88 BWTOTO BWTOTO BWTOTO BWTOTO BWTOTO LAMBO69 LAMBO69 LAMBO69
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38

Senjata Makan Tuan, Perusahaan Eropa Rugi Rp1.650 Triliun Akibat Sanksi Barat

Senjata Makan Tuan, Perusahaan Eropa Rugi Rp1.650 Triliun Akibat Sanksi Barat

loading…

Perusahaan-perusahaan besar Eropa menderita rugi ratusan miliar euro akibat kehilangan bisnisnya di Rusia. Foto/Ilustrasi

JAKARTA – Perusahaan besar Eropa mengalami kerugian setidaknya 100 miliar euro (USD110 miliar) atau sekitar Rp1.650 triliun, pada kurs Rp15.000 per USD, dari operasi mereka di Rusia sebagai akibat dari sanksi Barat.

Hal itu terungkap dari survei yang dilakukan Financial Times terhadap 600 laporan tahunan kelompok Eropa dan laporan keuangan 2023 yang dilansir RT.com, Selasa (8/8/2023). Survei itu menunjukkan bahwa 176 perusahaan mencatat penurunan nilai aset, biaya terkait valuta asing, dan pengeluaran lainnya sebagai akibat dari penjualan, penutupan, atau pengurangan bisnis yang berbasis di Rusia.

Angka agregat itu tidak termasuk dampak ekonomi makro tidak langsung dari konflik Ukraina seperti biaya energi dan komoditas yang lebih tinggi. Laporan tersebut mencatat bahwa kerugian terbesar tercatat di sektor energi, di mana tiga raksasa energi – BP, Shell dan TotalEnergies – melaporkan tagihan gabungan sebesar USD45 miliar. “Kerugian tersebut jauh melebihi harga minyak dan gas yang lebih tinggi, yang membantu kelompok-kelompok ini melaporkan laba agregat sekitar USD104 miliar tahun lalu,” tulis FT.

Menurut laporan itu, perusahaan utilitas terpukul langsung sebesar USD16 miliar, sementara perusahaan industri, termasuk pembuat mobil, menderita kerugian USD15 miliar. Perusahaan keuangan termasuk bank, perusahaan asuransi dan perusahaan investasi, mencatat penurunan nilai lebih dari USD19 miliar dan biaya lainnya.

Laporan tersebut juga mengutip data dari Sekolah Ekonomi Kiev (KSE) yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari 1.871 entitas milik Eropa di Rusia sebelum konflik masih beroperasi di negara tersebut. Mereka termasuk UniCredit Italia, Raiffeisen Austria, Nestle Swiss, dan Unilever Inggris.

Menurut rekan peneliti KSE Anna Vlasyuk, kelompok-kelompok yang masih beroperasi di Rusia ini mengambil risiko tinggi. Dia mengatakan kepada FT bahwa aturan keluar yang lebih ketat yang diperkenalkan oleh Moskow telah membuat “kemungkinan pengambilalihan dan mengekstraksi dividen apa pun dari bisnis ini hampir tidak mungkin.”

Setelah dimulainya operasi militer Moskow di Ukraina, lebih dari 1.000 perusahaan Barat keluar dari pasar Rusia, tertekan oleh sanksi, menurut analis Universitas Yale. Akibatnya, Rusia terpaksa melakukan reorientasi ke mitra non-Barat, terutama China dan India.

Data statistik menunjukkan bahwa perusahaan China telah berhasil mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh merek Barat. China telah bersaing dengan India sebagai pembeli minyak terbesar Rusia, dan telah mengambil alih Uni Eropa (UE) sebagai importir utama produk pertanian Rusia.

Seiring dengan itu, perdagangan Rusia-China tumbuh hampir sepertiga pada tahun 2022, mencapai USD185 miliar, menjadikan Moskow pemimpin di antara 20 mitra terbesar Beijing dalam hal pertumbuhan perdagangan. Para pejabat dari kedua negara mengatakan target omzet USD200 miliar yang ditetapkan oleh Moskow dan Beijing untuk tahun 2024 dapat dicapai lebih awal dari yang diperkirakan.

(fjo)

COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21